Kamis, 08 September 2016

Kiat Jauhi Budaya Jahiliyah

Laki-laki sebagai lambang keperkasaan mempunyai kecenderungan keras (maskulin). Sedangkan perempuan cenderung lembut, halus, sopan dan rendah hati atau tawadhu (feminim). Maka Alqur’an menetapkan laki-laki sebagai pelindung atau pemimpin wanita. Demikian pula dalam hal perang, yang maju berperang adalah laki-laki. Sebaliknya perempuan diciptakan Allah dari tulang rusuk Adam, dimaksudkan agar perempuan menjadi pendamping setia suami atau kaum laki-laki. Fungsi penting wanita adalah mendampingi dan menemani laki-laki. Tanpa dukungan, dampingan dan penyertaan perempuan, laki-laki tak punya semangat hidup dan tidak berarti apa-apa.


Namun begitu, ada saja wanita yang melawan kodratnya sebagai perempuan. Lalu ingin agar fungsinya sama dengan laki-laki, menjadi pemimpin, menjadi kepala keluarga, mencari nafkah, dlsb. Maka rusaklah tatanan kehidupan rumah tangga, yang berimbas pada rusaknya sendi-sendi kehidupan masyarakat, yaitu : angka perceraian meningkat, hubungan seksual diluar nikah bertambah, perselingkuhan terjadi di mana-mana, di kantor, di pabrik, di perusahaan dan di pertemuan-pertemuan khusus. Akibatnya selera untuk nikah atau berkeluarga secara sah, berkurang di kalangan laki-laki maupun perempuan karena dibayangi ketakutan disakiti hati oleh pasangannya. Di samping itu kalau berkeluarga repot ngurus ini ngurus itu, belum lagi kalau istrinya membangkang. Senjata laki-laki yang dipakai adalah memukul setelah dinasehati berulangkali tetap nusuz (membangkang) , sesuai perintah Allah dalam Alqur’an (QS.4:34) Tetapi istri seringkali tidak terima, mungkin karena dihembuskannya emansipasi wanita atau gender atau karena kesombongannya. Semakin sedikitlah istri-istri shalihah yang mau mengormati dan menghargai keberadaan suami, apalagi kalau mereka punya penghasilan sendiri. Wah, wah, wah.
Memukul bagaimanapun juga tidak dibenarkan jika yang dipukul wajah atau pipi wanita. Tetapi selain wajah dapat dibenarkan dalam rangka mendidik sesuai perintah Alqur’an setelah dinasehati tetap membangkang, asal memukulnya tidak melukai atau mengalirkan darah.
Perempuan diciptakan Allah berbeda dengan laki-laki. Perempuan diciptakan Allah memiliki kehalusan perasaan, kelembutan, kesopanan dan kerendahan suara jika berbicara serta tidak sombong. Karenanya jika dimarahi, dia hanya bisa menangis dan tidak akan membalas kemarahannya dengan memukul. Namun demikian, mulai muncul di kalangan wanita benih kesombongan yang meruntuhkan kodratnya sendiri. Sehingga tidak sedikit wanita yang berani memukul dan melampaui kodratnya sendiri. Jika wanita bersikap dan bertindak melampau batas dianggap biasa. Sementara kaum laki-laki yang memukul sesuai perintah Alqur’an dan tidak melampaui kodratnya sebagai laki-laki dilaporkan ke polisi, karena melanggar KDRT. Mana yang harus dibenarkan dan harus dibela? Semuanya ingin dibela.
Oleh karena itu, sebagai kaum laki-laki harus lebih berhati-hati, tidak asal memukul sebagai pelampiasan amarahnya. Kaum laki-laki harus lebih dapat mengendalikan nafsu dan emosi untuk kebaikan keluarga dan anak-anaknya. Apalagi marah, dendam, dan benci adalah gendrang yang ditabuh iblis untuk menyulut permusuhan dan pertikaian antar sesama manusia.
Gambaran di atas menandakan bahwa budaya jahiliyah kini kian merebak di berbagai lapisan, terutama di kalangan perempuan. Rasulullah saw dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim bersabda bahwa bukan termasuk umatku, perempuan yang memukul pipi, membuka jilbab dan berdoa secara jahiliyah.
(1) Bukan termasuk umat Nabi Muhamad saw perempuan yang sampai hati memukul pipi kaum laki-laki atau suaminya, meskipun tidak terlalu keras. Karena itu sebagai penghinaan terhadap suami atau kaum laki-laki. Apalagi kalau dilakukan di muka umum. Maka sebagai kaum perempuan juga harus berhati-hati dan memanfaatkan potensi  kelembutan dan kehalusan yang diciptakan Allah untuk beribadah melayani suami dan membimbing anak-anak agar kelak menjadi generasi surga. Bukankah Rasulullah saw pernah bersabda bahwa surga ada di bawah telapak kaki ibu.
Wanita cenderung cengeng, tetapi sombong. Cengeng karena kekuatan fisiknya lemah dan sombong karena bentuk fisiknya yang indah dan menjadi pujaan banyak kaum laki-laki sehingga jadi sombong lantas lupa akan kodratnya sebagai wanita, ditambah lagi adanya isu gender yang membuat semakin sulit mencari wanita shalihah yang berfungsi mendampingi, menemani, mendukung dan menyertai kaum laki-laki. Oleh karena itu untuk menjauhinya, kaum lelaki harus sangat selektif di dalam mencari pasangan hidupnya.
(2) Bukan termasuk umat Muhamad saw perempuan yang tidak mengenakan jilbab. Ini juga merupakan bentuk kesombongan perempuan, karena “Rambut adalah Mahkotaku” kata perempuan. Rambut kemudian dipercantik di salon kecantikan, lantas dibelai-belainya rambut yang indah itu di hadapan kaum laki-laki. Rasanya rugi kalau rambut yang indah itu tidak dipamerkan, lalu ditutup dengan jilbab. Sewaktu Rasulullah melakukan perjalanan Isra’ Mi’raj, diperlihatkannya perempuan-perempuan yang disiksa di neraka dengan digantung menggunakan rambutnya. Muhamad bertanya : “Hai Jibril, siapa mereka ?” Jawab Jibril :”Mereka adalah golongan perempuan umatmu yang tidak menutup rambutnya lalu diperlihatkannya kepada kaum laki-laki”.
Jika pemakaian jilbab diberlakukan untuk semua wanita, yang kurang senang adalah para pemilik salon kecantikan yang kini menjamur di mana-mana bagai rumput yang tumbuh di musim hujan. Demikian halnya toko-toko perhiasan yang menjual kalung dan anting-anting. Sebab jika parempuan memakai jilbab, anting-anting dan kalung tidak kelihatan. Namun demikian tidak menutup rizki mereka, karena masih banyak perempuan yang tidak memakai jilbab. Demikian juga di kalangan perempuan, masih banyak di antara mereka membeli perhiasan untuk menabung atau investasi dan dijual saat membutuhkan uang.

(3) Dan bukan termasuk umat Muhamad saw, perempuan yang berdoa secara jahiliyah. Berdoa sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang jahiliyah dulu, adalah berdoa dengan disertai menangis, merengek-rengek (sambat-sambat). Berdoa semacam itu dilarang dalam Islam karena menimbulkan syirik dan ada unsur keluh kesah berlebihan yang termasuk dalam kategori kufur. Oleh karena itu para fuqoha melarang perempuan untuk berziarah kubur, karena dikhawatirkan menimbulkan syirik. Demikianlah sekedar ungkapan yang disarikan dari hadis Rasul, semoga bermanfaat bagi kaum perermpuan dalam rangka menjauhi budaya jahiliyah yang dilansir oleh Rasulullah saw. Amien ya Rabbal-alamien.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

'; (function() { var dsq = document.createElement('script'); dsq.type = 'text/javascript'; dsq.async = true; dsq.src = '//' + disqus_shortname + '.disqus.com/embed.js'; (document.getElementsByTagName('head')[0] || document.getElementsByTagName('body')[0]).appendChild(dsq); })();