Kamis, 18 Februari 2016

Tips Menghindari Dosa





Untuk menghindari dosa yang sering dilakukan oleh manusia, layak kiranya dipaparkan di sini enam pertanyaan yang pernah disampaikan oleh Imam al-Ghazali, penulis buku “Ihya Ulumuddin” kepada santri-santrinya, Pertama, beliau bertanya : “Apakah yang paling dekat dengan kamu?” Santri menjawab : “Orang tua, saudara, dan teman dekat” Imam Ghazali mengomentari bahwa benar jawaban mereka. Tetapi beliau menambahkan bahwa sesungguhnya yang paling dekat dengan manusia adalah kematian. Tidak sedikit orang yang dikejutkan oleh peristiwa kematian dan tidak sedikit pula orang yang belum siap menjemput kematian. Itu artinya bahwa kematian itu sangat dekat sampai orang-orang belum sempat untuk bertaubat, belum sempat untuk meminta maaf dan belum sempat untuk berbuat baik. Rasulullah mengibaratkan bahwa hidup ini seperti mampir. Tentu tidak berlama-lama manusia tinggal di bumi ini dan segera datang sebuah kematian. Mengingat sebegitu dekatnya kematian, tidak layaklah manusia untuk menambah catatan-catatan dosa. Sebaliknya harus segera bertaubat untuk menghadapi kematian. Manusia tidak layak pula untuk bermalas-malas tanpa berbuat sesuatu yang bermanfaat. Dan lebih tidak pantas lagi jika manusia hidup tidak serius justru sebaliknya mereka bersenang-senang, berleha-leha, bernyanyi, apalagi berjudi.
Kedua, beliau bertanya: “Apakah yang paling jauh dari kamu?” Santri-santri menjawab: “Gunung, langit, matahari, bulan dan bintang.” Imam Ghazali mengatakan benar jawaban mereka, tetapi jawaban yang paling benar adalah masa lalu. Masa lalu yang semestinya sangat jauh dan tidak terlihat oleh manusia tetapi seringkali manusia terjebak oleh masa lalu. Manusia sering mengingat-ingat masa lalu, manusia sering berpedoman kepada masa lalu yang belum tentu benar, manusia sering membuat klaim berdasarkan pengalaman masa lalu yang membuat mereka susah dan bersedih lantas putus asa, manusia sering ngotot dan marah karena masa lalu, manusia juga sering terpukau peristiwa indah masa lalu lantas lupa diri atau membanggakan diri sendiri.  Peluang yang ada di hadapannya disia-siakan karena masa lalu dianggap dekat dan penting. Tidak sedikit orang-orang gagal dan takut karena masa lalu  dijadikan pedoman tanpa mengambil pelajaran atau hikmah dibalik peristiwa itu. Demikian pula tidak sedikit orang yang gagal karena terlalu berani mengambil resiko atas dasar masa lalu. Oleh karena itu banyak-banyaklah mengambil pelajaran dari petunjuk Tuhan yang termaktub dalam kitab suci.
Ketiga, beliau bertanya: “Apakah yang paling besar dari kita?”Santri-santri menjawab: “Matahari, langit dan bumi”. Imam Ghazali mengatakan benar jawaban mereka tetapi jawaban yang benar-benar besar adalah nafsu kita. Nafsu kita mengalahkan segala-galanya, nafsu kita besar dan belum pernah orang merasa puas menikmati nafsu dan keinginannya karena sedemikian besar dan sulit dicapai. Orang lupa diri, lupa anak, lupa istri, lupa tetangga karena sedang mengejar nafsunya yang besar. Bahkan terkadang orang lupa kepada Tuhan dan kitab suci-Nya gara-gara mengejar nafsu lantas menghalalkan segala cara untuk mendapatkan tujuan. Tidak sedikit orang yang jatuh karena mengejar harta dan kekayaan  melimpah yang tergambar dalam pikirannya. Padahal Alqur’an sudah mengingatkan bahwa kehidupan dunia adalah kesenangan yang menipu. Orang lebih suka kredit bank meskipun susah saat melunasinya karena membayangkan kesenangan yang diperoleh daripada hidup sederhana tanpa pinjam bank. Tidak sedikit orang yang tertipu dengan kesenangan dunia.
Keempat, beliau bertanya kepada para santrinya: “Apa yang paling ringan bagi kita?”  Para santri menjawab bahwa yang paling ringan adalah kapuk, angin, udara dan debu. Mendengar jawaban itu beliau mengatakan bahwa  kapuk, angin, udara dan debu memang ringan tetapi ada yang lebih ringan, yaitu menyepelekan shalat lima waktu, sehingga banyak orang yang masuk ke neraka wail gara-gara melupakan atau menggampangkan shalat. Lebih menyepelekan lagi melakukan shalat secara jamaah. Padahal shalat sebagai tiang agama. Barang siapa mendirikan shalat secara disiplin, maka berarti dia menegakkan agama. Dan barang siapa yang meringankan atau mengabaikan shalat , maka berarti menghancurkan agama, demikian sabda Nabi dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim.
Kelima, beliau bertanya lagi kepada santrinya: “Apa yang paling berat bagi kalian?” Para santri menjawab: “besi, batu, baja, dan tembaga. Imam Ghazali mengatakan besi, batu, tembaga memang berat, tetapi yang paling berat adalah menjaga amanat, baik amanat dari rakyat atau masyarakat, maupun amanat dari Tuhan. Meskipun di saat pelantikan mereka mengangkat sumpah untuk tidak menyeleweng atau menyalahgunakan wewenang, tetapi  dalam kenyataannya di lapangan tidak sedikit di antara mereka yang tidak sanggup memikul amanat itu. Mereka banyak melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme atau KKN.
Keenam, beliau bertanya kepada santri-santrinya: “Apa yang paling tajam bagi kita?” Para santri menjawab bahwa yang paling tajam adalah pisau, pedang dan senjata. Imam Ghazali mengatakan bahwa pisau, pedang dan senjata memang tajam untuk membunuh orang, tetapi ada yang lebih tajam lagi, yaitu lisan, yakni lisan yang dipergunakan untuk memfitnah, menyakiti hati orang, menghina dan merendahkan orang lain.Sakit gigi bisa diobati tetapi sakit hati susah mengobatinya. Di dalam Alqur’an dijelaskan bahwa fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Karena dengan fitnah bisa terjadi pertumpahan darah  terus-menerus dan susah diakhiri dengan perdamaian. Kasus perang Vitnam, perang Korea, perang Iran- Irak, perang Amerika –Irak tidak terlepas dari fitnah atau berita bohong yang dihembuskan oleh masing-masing pihak dan sampai sekarang masih tersimpan sikap permusuhan di antara mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

'; (function() { var dsq = document.createElement('script'); dsq.type = 'text/javascript'; dsq.async = true; dsq.src = '//' + disqus_shortname + '.disqus.com/embed.js'; (document.getElementsByTagName('head')[0] || document.getElementsByTagName('body')[0]).appendChild(dsq); })();