Untuk menghindari dosa yang sering
dilakukan oleh manusia, layak kiranya dipaparkan di sini enam pertanyaan yang pernah disampaikan
oleh Imam al-Ghazali, penulis buku “Ihya Ulumuddin” kepada santri-santrinya,
Pertama, beliau bertanya : “Apakah yang paling dekat dengan kamu?” Santri
menjawab : “Orang tua, saudara, dan teman dekat” Imam Ghazali mengomentari
bahwa benar jawaban mereka. Tetapi beliau menambahkan bahwa sesungguhnya yang
paling dekat dengan manusia adalah kematian. Tidak sedikit orang yang
dikejutkan oleh peristiwa kematian dan tidak sedikit pula orang yang belum siap
menjemput kematian. Itu artinya bahwa kematian itu sangat dekat sampai
orang-orang belum sempat untuk bertaubat, belum sempat untuk meminta maaf dan belum
sempat untuk berbuat baik. Rasulullah mengibaratkan bahwa hidup ini seperti
mampir. Tentu tidak berlama-lama manusia tinggal di bumi ini dan segera datang sebuah
kematian. Mengingat sebegitu dekatnya kematian, tidak layaklah manusia untuk
menambah catatan-catatan dosa. Sebaliknya harus segera bertaubat untuk
menghadapi kematian. Manusia tidak layak pula untuk bermalas-malas tanpa
berbuat sesuatu yang bermanfaat. Dan lebih tidak pantas lagi jika manusia hidup
tidak serius justru sebaliknya mereka bersenang-senang, berleha-leha,
bernyanyi, apalagi berjudi.
Kedua, beliau bertanya: “Apakah yang paling
jauh dari kamu?” Santri-santri menjawab: “Gunung, langit, matahari, bulan dan
bintang.” Imam Ghazali mengatakan benar jawaban mereka, tetapi jawaban yang
paling benar adalah masa lalu. Masa lalu yang semestinya sangat jauh dan tidak
terlihat oleh manusia tetapi seringkali manusia terjebak oleh masa lalu.
Manusia sering mengingat-ingat masa lalu, manusia sering berpedoman kepada masa
lalu yang belum tentu benar, manusia sering membuat klaim berdasarkan
pengalaman masa lalu yang membuat mereka susah dan bersedih lantas putus asa,
manusia sering ngotot dan marah karena masa lalu, manusia juga sering terpukau
peristiwa indah masa lalu lantas lupa diri atau membanggakan diri sendiri. Peluang yang ada di hadapannya disia-siakan
karena masa lalu dianggap dekat dan penting. Tidak sedikit orang-orang gagal
dan takut karena masa lalu dijadikan
pedoman tanpa mengambil pelajaran atau hikmah dibalik peristiwa itu. Demikian pula
tidak sedikit orang yang gagal karena terlalu berani mengambil resiko atas
dasar masa lalu. Oleh karena itu banyak-banyaklah mengambil pelajaran dari
petunjuk Tuhan yang termaktub dalam kitab suci.
Ketiga, beliau bertanya: “Apakah yang
paling besar dari kita?”Santri-santri menjawab: “Matahari, langit dan bumi”.
Imam Ghazali mengatakan benar jawaban mereka tetapi jawaban yang benar-benar
besar adalah nafsu kita. Nafsu kita mengalahkan segala-galanya, nafsu kita
besar dan belum pernah orang merasa puas menikmati nafsu dan keinginannya
karena sedemikian besar dan sulit dicapai. Orang lupa diri, lupa anak, lupa
istri, lupa tetangga karena sedang mengejar nafsunya yang besar. Bahkan
terkadang orang lupa kepada Tuhan dan kitab suci-Nya gara-gara mengejar nafsu
lantas menghalalkan segala cara untuk mendapatkan tujuan. Tidak sedikit orang
yang jatuh karena mengejar harta dan kekayaan
melimpah yang tergambar dalam pikirannya. Padahal Alqur’an sudah
mengingatkan bahwa kehidupan dunia adalah kesenangan yang menipu. Orang lebih
suka kredit bank meskipun susah saat melunasinya karena membayangkan kesenangan
yang diperoleh daripada hidup sederhana tanpa pinjam bank. Tidak sedikit orang
yang tertipu dengan kesenangan dunia.
Keempat, beliau bertanya kepada para
santrinya: “Apa yang paling ringan bagi kita?”
Para santri menjawab bahwa yang paling ringan adalah kapuk, angin, udara
dan debu. Mendengar jawaban itu beliau mengatakan bahwa kapuk, angin, udara dan debu memang ringan
tetapi ada yang lebih ringan, yaitu menyepelekan shalat lima waktu, sehingga
banyak orang yang masuk ke neraka wail gara-gara melupakan atau menggampangkan shalat. Lebih menyepelekan lagi melakukan shalat secara
jamaah. Padahal shalat sebagai tiang agama. Barang siapa mendirikan shalat
secara disiplin, maka berarti dia menegakkan agama. Dan barang siapa yang
meringankan atau mengabaikan shalat , maka berarti menghancurkan agama,
demikian sabda Nabi dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim.
Kelima, beliau bertanya lagi kepada
santrinya: “Apa yang paling berat bagi kalian?” Para santri menjawab: “besi,
batu, baja, dan tembaga. Imam Ghazali mengatakan besi, batu, tembaga memang
berat, tetapi yang paling berat adalah menjaga amanat, baik amanat dari rakyat
atau masyarakat, maupun amanat dari Tuhan. Meskipun di saat pelantikan mereka
mengangkat sumpah untuk tidak menyeleweng atau menyalahgunakan wewenang,
tetapi dalam kenyataannya di lapangan
tidak sedikit di antara mereka yang tidak sanggup memikul amanat itu. Mereka
banyak melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme atau KKN.
Keenam, beliau bertanya kepada santri-santrinya: “Apa yang
paling tajam bagi kita?” Para santri menjawab bahwa yang paling tajam adalah
pisau, pedang dan senjata. Imam Ghazali mengatakan bahwa pisau, pedang dan
senjata memang tajam untuk membunuh orang, tetapi ada yang lebih tajam lagi,
yaitu lisan, yakni lisan yang dipergunakan untuk memfitnah, menyakiti hati
orang, menghina dan merendahkan orang lain.Sakit gigi bisa diobati tetapi sakit
hati susah mengobatinya. Di dalam Alqur’an dijelaskan bahwa fitnah lebih kejam
dari pembunuhan. Karena dengan fitnah bisa terjadi pertumpahan darah terus-menerus dan susah diakhiri dengan
perdamaian. Kasus perang Vitnam, perang Korea, perang Iran- Irak, perang
Amerika –Irak tidak terlepas dari fitnah atau berita bohong yang dihembuskan
oleh masing-masing pihak dan sampai sekarang masih tersimpan sikap permusuhan
di antara mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar