Jumat, 22 Agustus 2014

Tips Memilih Kawan



Pemahaman agama yang masih dangkal menjadi sebab orang tidak peduli terhadap agama yang dianutnya. Agama hanya sebagai hiasan, etalase yang dipajang. Padahal agama suatu keniscayaan yang harus ada pada diri setiap insan. Sesuai fitrahnya manusia sejak kecil mengakui dan bersaksi tiada tuhan kecuali Allah. Agama  harus menjadi bagian dari hidup. Dan hidup harus beragama secara total, tidak setengah-setengah. Pemahaman agama juga harus menyeluruh, tidak memilih yang ringan-ringan atau yang menguntungkan sementara yang berat-berat ditinggalkan. Agama tidak boleh dijadikan mainan belaka yang dipakai hanya pada saat dibutuhkan dan disingkirkan pada saat tidak ada selera atau keinginan. Kalau manusia tidak ada selera terhadap agama, mustahil mereka mengamalkan ajarannya apalagi membiasakannya dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu dibutuhkan keyakinan yang kuat terhadap agama yang dianutnya agar prilakunya benar-benar mencerminkan manusia beragama atau manusia mulia.

Akibat dari keimanan yang rendah, seolah-olah hidup ini tiada yang mengatur, tidak ada yang menciptakan, dan ada dengan sendirinya. Seperti faham atheisme. Sehingga tidak jarang manusia mengabaikan Tuhan sungguhpun mempercayai adanya Tuhan. Buktinya mereka kurang menghayati nilai-nilai agama yang bersumber dari Tuhan, padahal ada keterikatan dengan Tuhan.
Tuhan yang tidak dinomorsatukan menimbulkan derap langkah yang didasari cinta dunia, cinta harta, tahta dan wanita. Manusia akan selalu berhadapan dengan sesama manusia sebagai pesaingnya untuk memperoleh harta, tahta dan wanita yang dicintainya. Akibatnya manusia bukan lagi sebagai kawan atau patner, tetapi sebagai lawan. Padahal Allah dalam Alqur’an berulang-ulang sampai sepuluh kali mengatakan : “Sesungguhnya syaitan bagi kalian adalah musuh yang nyata” (QS 2:168 dan 208). Dengan demikian, maka orang muslim bermusuhan dengan orang muslim, suami bermusuhan dengan istri meskipun awalnya didasari cinta, tetangga bertengkar, itu bukti  mereka tidak mengindahkan peringatan dari  Allah swt.
Jika manusia bermusuhan dengan manusia, maka mereka salah memilih lawan dan salah memilih kawan. Semestinya sesuai dengan peringatan Allah, manusia harus menjadikan syaitan sebagai lawan karena sejak Nabi Adam as, syetan  benar-benar jadi musuhnya dan manusia harus selalu menjadikan manusia sebagai kawan, meskipun nakal sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah saw, beliau pernah bersabda dalam sebuah hadits : “Sambunglah tali silaturahim terhadap orang yang memutus hubungan denganmu, dan berbuat baiklah terhadap orang yang berbuat buruk kepadamu!”(HR. Muslim).
Allah menjelaskan di dalam Alqur’an bahwa syaitan adalah mahluk yang tidak patuh kepada-Nya ketika disuruh sujud kepada Adam as. Sehingga ia mendapatkan kutukan dari Allah swt dan kemudian ia berjanji akan selalu menggoda kepada keturunan Adam as sampai hari Kiamat. Syaitan menggoda agar manusia takut miskin, lalu menjadi kikir dan menyuruh manusia berbuat buruk dan mungkar. Syaitan juga berusaha agar manusia satu sama lain bermusuhan dan marah-marah. Allah berfirman :”Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka. (QS 4:120).  “Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan dan karunia daripada-Nya.  Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui”. (QS. 2: 268)
Sepanjang manusia berhadapan dengan manusia dan  tidak melihat serta mengindahkan peringatan dan perintah dari Allah swt, maka terjadilah kekerasan, atau pemerasan dimana-mana. Yang kuat yang menang. Jika sama-sama kuat, akan bermusuhan terus-menerus. Dan yang berkuasa atau pejabat akan memanfaatkan kekuasaannya mengeruk uang sebanyak-banyaknya. Hukum bisa dibeli dengan uang. Jabatan, kedudukan juga bisa dibeli dengan uang. Dan uang menjadi raja. Uang segala-galanya. Negara akan menjadi kerajaan besar yang terdiri dari kerajaan-kerajaan menengah dan kerajaan menengah terdiri dari kerajaan-kerajaan kecil dan seterusnya. Kerajaan kecil harus setor uang kepada kerajaan menengah. Kerajaan menengah harus setor uang kepada kerajaan besar (pusat). Tentu yang sangat tertindas adalah rakyat, karena ia bagian yang terkecil meskipun sama-sama tertindas. Dan yang paling beruntung adalah Rajadiraja.  Peristiwa ini dirasakan nyata di rutan-rutan (rumah tahanan) atau di lapas-lapas (lembaga pemasyarakatan) seperti yang pernah diutarakan oleh mereka yang pernah dipenjara. Mereka yang sudah jelas-jelas tersiksa secara lahir maupun batin masih harus membayar uang kepada petugas dari perbagai lapis. Dari lapis  bawah sampai lapis atas. Bahkan ketua kamar yang sama-sama senasib dipenjara tega-teganya memeras kawannya sendiri yang sekamar. Jika tidak membayar sejumlah uang,  ia akan disiksa. Riyak-riyak kejadian ini  masih juga terasa di negeri kita tercinta meskipun berdasarkan nilai-nilai luhur Pancasila. Dari mulai mencari pekerjaan harus dengan uang, agar diterima di sekolah tertentu harus dengan uang, agar naik pangkat harus dengan uang, agar dapat kursi jabatan harus dengan uang, bahkan menjadi presiden pun harus dengan uang meskipun melalui pemilu yang luber (langsung, umum, bebas dan rahasia) karena adanya “money politice”.  Rupanya sudah tidak rahasia lagi bahwa uang adalah segala-galanya.
Sampai kapankah rakyat kita berhenti berbuat dosa? Atau masih teruskah rakyat kita berkawan dengan syaitan yang jelas-jelas musuh rakyat dan bangsa? Jika rakyat kita masih terus berlanjut hidup berkawan syaitan dengan orientasi kepada uang, maka tidak akan ada tolong-menolong sesama rakyat, apalagi gotong-royong. Mereka akan saling bermusuhan. Bumi pun tidak mau bersahabat. Bumi semakin panas. Tidak ada keberkahan dari langit dan bumi.
Demikian pula dengan aparat penegak hukum, seperti polisi, jaksa, hakim dan pengacara, apabila mereka berorientasi kepada uang, maka keadilan hukum susah ditegakkan. Karena hukum dapat dijualbelikan. Rasa bermusuhan, rasa kesal, rasa jengkel  terhadap aparat penegak hukum akan memuncak, karena tidak adanya penegakan hukum, tidak adanya rasa keadilan. Lagi-lagi yang jadi korban adalah mereka yang tidak punya uang atau uangnya sedikit.
Dalam kehidupan yang serba uang, kaum lelaki yang banyak uang akan seenaknya mengincar kaum perempuan untuk dijadikan sebagai pemuas nafsu. Wanita adalah kaum yang lemah, jika ia tidak memiliki iman yang kuat, ditambah dengan situasi ekonomi yang mencekik, ia tidak akan malu-malu lagi mencari uang dengan menjual harga diri dan kehormatannya kepada laki-laki yang berduit. Prostitusi tercecer di mana-mana. Maka benar apa yang dikatakan oleh Rasulullah saw. bahwa besok di akhir zaman, Allah akan menghilangkan empat hal, yaitu : menghilangkan keberkahan dari bumi, menghilangkan keadilan dari para hakim (penegak hukum), menghilangkan sikap kasih sayang dari hati orang-orang muslim, dan menghilangkan rasa malu dari kaum perempuan.











Semua orang ingin memiliki kekasih dan ingin selalu bersama kekasihnya. Tetapi ia akan berpisah dengan kekasihnya. Maka aku memilih kekasih berupa amal kebaikan. Karena ia akan selalu bersamaku saat aku di kuburan dan saat aku menghadap Tuhan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

'; (function() { var dsq = document.createElement('script'); dsq.type = 'text/javascript'; dsq.async = true; dsq.src = '//' + disqus_shortname + '.disqus.com/embed.js'; (document.getElementsByTagName('head')[0] || document.getElementsByTagName('body')[0]).appendChild(dsq); })();