Pemahaman agama yang
masih dangkal menjadi sebab orang tidak peduli terhadap agama yang dianutnya.
Agama hanya sebagai hiasan, etalase yang dipajang. Padahal agama suatu
keniscayaan yang harus ada pada diri setiap insan. Sesuai fitrahnya manusia
sejak kecil mengakui dan bersaksi tiada tuhan kecuali Allah. Agama harus menjadi bagian dari hidup. Dan hidup
harus beragama secara total, tidak setengah-setengah. Pemahaman agama juga
harus menyeluruh, tidak memilih yang ringan-ringan atau yang menguntungkan
sementara yang berat-berat ditinggalkan. Agama tidak boleh dijadikan mainan
belaka yang dipakai hanya pada saat dibutuhkan dan disingkirkan pada saat tidak
ada selera atau keinginan. Kalau manusia tidak ada selera terhadap agama,
mustahil mereka mengamalkan ajarannya apalagi membiasakannya dalam kehidupan
sehari-hari. Oleh karena itu dibutuhkan keyakinan yang kuat terhadap agama yang
dianutnya agar prilakunya benar-benar mencerminkan manusia beragama atau
manusia mulia.
Akibat dari keimanan
yang rendah, seolah-olah hidup ini tiada yang mengatur, tidak ada yang
menciptakan, dan ada dengan sendirinya. Seperti faham atheisme. Sehingga tidak
jarang manusia mengabaikan Tuhan sungguhpun mempercayai adanya Tuhan. Buktinya
mereka kurang menghayati nilai-nilai agama yang bersumber dari Tuhan, padahal
ada keterikatan dengan Tuhan.
Tuhan yang tidak
dinomorsatukan menimbulkan derap langkah yang didasari cinta dunia, cinta
harta, tahta dan wanita. Manusia akan selalu berhadapan dengan sesama manusia
sebagai pesaingnya untuk memperoleh harta, tahta dan wanita yang dicintainya.
Akibatnya manusia bukan lagi sebagai kawan atau patner, tetapi sebagai lawan.
Padahal Allah dalam Alqur’an berulang-ulang sampai sepuluh kali mengatakan :
“Sesungguhnya syaitan bagi kalian adalah musuh yang nyata” (QS 2:168 dan 208).
Dengan demikian, maka orang muslim bermusuhan dengan orang muslim, suami
bermusuhan dengan istri meskipun awalnya didasari cinta, tetangga bertengkar,
itu bukti mereka tidak mengindahkan
peringatan dari Allah swt.
Jika manusia bermusuhan
dengan manusia, maka mereka salah memilih lawan dan salah memilih kawan.
Semestinya sesuai dengan peringatan Allah, manusia harus menjadikan syaitan
sebagai lawan karena sejak Nabi Adam as, syetan
benar-benar jadi musuhnya dan manusia harus selalu menjadikan manusia sebagai
kawan, meskipun nakal sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah saw, beliau
pernah bersabda dalam sebuah hadits : “Sambunglah tali silaturahim terhadap
orang yang memutus hubungan denganmu, dan berbuat baiklah terhadap orang yang
berbuat buruk kepadamu!”(HR. Muslim).
Allah menjelaskan di dalam
Alqur’an bahwa syaitan adalah mahluk yang tidak patuh kepada-Nya ketika disuruh
sujud kepada Adam as. Sehingga ia mendapatkan kutukan dari Allah swt dan
kemudian ia berjanji akan selalu menggoda kepada keturunan Adam as sampai hari
Kiamat. Syaitan menggoda agar manusia takut miskin, lalu menjadi kikir dan
menyuruh manusia berbuat buruk dan mungkar. Syaitan juga berusaha agar manusia
satu sama lain bermusuhan dan marah-marah. Allah berfirman :”Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan
angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada
mereka selain dari tipuan belaka. (QS 4:120).
“Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan
menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu
ampunan dan karunia daripada-Nya. Dan
Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui”. (QS. 2: 268)
Sepanjang
manusia berhadapan dengan manusia dan
tidak melihat serta mengindahkan peringatan dan perintah dari Allah swt,
maka terjadilah kekerasan, atau pemerasan dimana-mana. Yang kuat yang menang.
Jika sama-sama kuat, akan bermusuhan terus-menerus. Dan yang berkuasa atau
pejabat akan memanfaatkan kekuasaannya mengeruk uang sebanyak-banyaknya. Hukum
bisa dibeli dengan uang. Jabatan, kedudukan juga bisa dibeli dengan uang. Dan
uang menjadi raja. Uang segala-galanya. Negara akan menjadi kerajaan besar yang
terdiri dari kerajaan-kerajaan menengah dan kerajaan menengah terdiri dari
kerajaan-kerajaan kecil dan seterusnya. Kerajaan kecil harus setor uang kepada
kerajaan menengah. Kerajaan menengah harus setor uang kepada kerajaan besar (pusat).
Tentu yang sangat tertindas adalah rakyat, karena ia bagian yang terkecil
meskipun sama-sama tertindas. Dan yang paling beruntung adalah Rajadiraja. Peristiwa ini dirasakan nyata di rutan-rutan
(rumah tahanan) atau di lapas-lapas (lembaga pemasyarakatan) seperti yang
pernah diutarakan oleh mereka yang pernah dipenjara. Mereka yang sudah
jelas-jelas tersiksa secara lahir maupun batin masih harus membayar uang kepada
petugas dari perbagai lapis. Dari lapis
bawah sampai lapis atas. Bahkan ketua kamar yang sama-sama senasib
dipenjara tega-teganya memeras kawannya sendiri yang sekamar. Jika tidak
membayar sejumlah uang, ia akan disiksa.
Riyak-riyak kejadian ini masih juga
terasa di negeri kita tercinta meskipun berdasarkan nilai-nilai luhur
Pancasila. Dari mulai mencari pekerjaan harus dengan uang, agar diterima di
sekolah tertentu harus dengan uang, agar naik pangkat harus dengan uang, agar
dapat kursi jabatan harus dengan uang, bahkan menjadi presiden pun harus dengan
uang meskipun melalui pemilu yang luber (langsung, umum, bebas dan rahasia)
karena adanya “money politice”. Rupanya
sudah tidak rahasia lagi bahwa uang adalah segala-galanya.
Sampai
kapankah rakyat kita berhenti berbuat dosa? Atau masih teruskah rakyat kita
berkawan dengan syaitan yang jelas-jelas musuh rakyat dan bangsa? Jika rakyat
kita masih terus berlanjut hidup berkawan syaitan dengan orientasi kepada uang,
maka tidak akan ada tolong-menolong sesama rakyat, apalagi gotong-royong.
Mereka akan saling bermusuhan. Bumi pun tidak mau bersahabat. Bumi semakin
panas. Tidak ada keberkahan dari langit dan bumi.
Demikian
pula dengan aparat penegak hukum, seperti polisi, jaksa, hakim dan pengacara,
apabila mereka berorientasi kepada uang, maka keadilan hukum susah ditegakkan.
Karena hukum dapat dijualbelikan. Rasa bermusuhan, rasa kesal, rasa
jengkel terhadap aparat penegak hukum
akan memuncak, karena tidak adanya penegakan hukum, tidak adanya rasa keadilan.
Lagi-lagi yang jadi korban adalah mereka yang tidak punya uang atau uangnya
sedikit.
Dalam
kehidupan yang serba uang, kaum lelaki yang banyak uang akan seenaknya
mengincar kaum perempuan untuk dijadikan sebagai pemuas nafsu. Wanita adalah
kaum yang lemah, jika ia tidak memiliki iman yang kuat, ditambah dengan situasi
ekonomi yang mencekik, ia tidak akan malu-malu lagi mencari uang dengan menjual
harga diri dan kehormatannya kepada laki-laki yang berduit. Prostitusi tercecer
di mana-mana. Maka benar apa yang dikatakan oleh Rasulullah saw. bahwa besok di
akhir zaman, Allah akan menghilangkan empat hal, yaitu : menghilangkan
keberkahan dari bumi, menghilangkan keadilan dari para hakim (penegak hukum),
menghilangkan sikap kasih sayang dari hati orang-orang muslim, dan
menghilangkan rasa malu dari kaum perempuan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar