Perbuatan dosa dalam bentuk
apapun, besar atau kecil, menghambat dan
menghalangi rizki pelakunya. Karena dapat mengurangi kredibilitas dan
kepercayaan masyarakat terhadapnya. Namun demikian rizki tetap dijamin Allah
sesuai dengan janji-Nya. Hanya saja untuk memperoleh rizki terkadang harus
mengalami rintangan yang tidak mudah. Sebaliknya orang yang bersih dan selalu
berfokus pada amalan shalih, rizki mengalir bagai air sungai tanpa komando dan
tanpa perhitungan.
Sesungguhnya yang membuat orang
susah atau sulit sebenarnya adalah dirinya sendiri, karena memilih berbuat
dosa. Kenapa dosa yang dilakukan padahal tahu akibatnya. Barangkali ada yang
keliru dalam cara berpikir seseorang. Orang berpikir positif dan selalu
optimis, akan tampil baik dan berbuat positif. Diri kita adalah sesuai dengan
pikiran kita. Jika kita menganggap diri kita penting, maka kita menjadi penting
dan melakukan perbuatan-perbuatan baik yang membuat kita penting. Akal pikiran
kita sebagai anugrah Allah semestinya harus disyukuri dan dihargai dengan
memasukkan hal-hal yang positif, bukan dengan hal-hal negatif. Sebab hal-hal
negatif yang kita lihat, kita dengar dan kita pikirkan akan mendorong kita
berbuat negatif.
Di dalam diri kita, ada keinginan
baik dan keinginan buruk. Dan kita bebas untuk memilih. Jika kita memilih
keinginan yang baik, kita akan membayangkan keinginan yang baik itu tercapai. Maka
tergeraklah kita untuk berbuat dengan sungguh-sungguh untuk tercapainya
keinginan yang baik itu. Dan tidak lama lagi keinginan itu tercapai, sesuai
dengan janji Allah di dalam hadits Qudsi yang berbunyi : “Aku akan selalu
mengikuti ( berada pada) sangkaan hamba-Ku. Dan tidak akan menyalahi sangkaan
hamba-Nya”. Oleh karena itu, jika kita sesat atau gagal, itu kekeliruan kita
sendiri mengapa kita berpikiran sesat atau gagal.
Sedemikian sayang Allah kepada
hamba-Nya, sampai apa yang diniati, dipikirkan menjadi program yang diproses
dalam otak alam bawah sadar kita yang segera terwujud dalam dunia realitas.
Maka, alangkah ruginya kalau otak yang begitu cemerlang dimasuki data-data atau
file-file yang negatif atau kotor, karena secara jujur otak pun akan memproses
untuk tercapainya hal-hal yang negatif atau kotor juga.
Otak manusia memiliki kemampuan
dahsyat yang sangat luar biasa dan tidak ada yang dapat menandingi
kemampuannya. Ia berkapasitas satu triliun lebih sel otak. Satu sel otak
sepadan dengan kapasitas komputer jenis pentium 4. Karenanya anugrah Allah yang
begitu hebat tidak boleh disia-siakan untuk menuntun jalan menuju kesuksesan.
Tentunya dengan mengisi otak, data-data positif dengan selalu menjaga panca
indra kita dari melihat, mendengarkan, mencium, meraba dan memikirkan hal-hal
yang berbau maksiat. Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai kaum itu
mau mengubah nasib dirinya sendiri. Allah berfirman : “Sesungguhnya
Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang
ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki kebunrukan terhadap
sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada
pelindung bagi mereka selain Dia.”(QS. 13:11). Tidak ada seseorang pun yang
dapat mengubah takdir atau nasib kecuali
dengan do’a/permohonan kepada Allah swt. Do’a berasal dari kata da’aa, yad’u
du’aa’an, yang artinya mengajak, menarik. Maksudnya supaya kita menarik hal-hal
yang baik/positif ke dalam pikiran kita.
Kita mengajak, menangkap sinyal-singgal positif di luar diri kita untuk
dimasukkan ke dalam alam pikiran kita. Sehingga otak kita dengan cepat
memprogram rencana sukses kita . Sekali-sekali tidak boleh menangkap
sinyal-sinyal negatif, sebab sangat berbahaya dan akan menggagalkan sukses kita.
Bahkan menjerumuskan kita ke tempat yang paling rendah. Allah berfirman :
“Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat serendah-rendahnya (neraka) (QS. 95:5)
Kita patut
bersyukur kepada Allah swt karena Dia selalu mengikuti keinginan dan keyakinan
hamba-Nya kemana ia tuju dalam hidup ini. Tidak ada do’a yang tidak
terkabulkan. Do’a buruk pun sebagaimana doa orang-orang kafir dikabulkannya
karena Allah telah membuat sistem yang canggih di dalam otak manusia. Maka,
jangan sampai berdoa buruk. Hati-hati
otak akan segera menangkap dan memprogram. Demikian pula alam sekitar
melalui radius gelombang yang sama akan segera merekam, Belum lagi
malaikat-malaikat yang memang ditugasi untuk mencatat berbagai macam peristiwa
termasuk yang dipikirkan oleh manusia. Oleh karena itu upayakan yang masuk
dalam renungan dan pemikiran hal-hal yang baik. Jangan sampai berburuk sangka
kepada orang lain. Allah tegas-tegas melarangnya apalagi menggunjing. Allah
berfirman :” Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan),
karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari
keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang
diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka
tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”(QS. 49:12)
Alam pikiran yang
senantiasa menerima sinyal-sinyal positif akan menggerakkan kita untuk bersikap
dan bertindak positif dan baik yang diridhoi
Allah swt . Dan jika kita sudah terbebas dari perbuatan-perbuatan dosa dan
diliputi oleh amalan-amalan shalih, hati kita menjadi bening sebening kaca
bahkan lebih bening dan bercahaya. Kita akan bebas dari penyakit hati, seperti
: ujub, sombong, iri, dengki, benci, marah, buruk sangka, dll. Dan bebas pula
dari penyakit pisik yang kini merebak di masyarakat, seperti : liver, strouke,
hipertensi, jantung koroner, asam urat, dll.
Di samping kita
bebas dari berbagai penyakit, umur kita akan bertambah panjang. Rasulullah
saw bersabda: “Tidak akan bertambah umur
kita kecuali dengan perbuatan-perbuatan baik” Dalam riset yang dilakukan oleh
majalah Personalitry and Social
Psychology , para ilmuan menambahkan bahwa orang -orang yang menghadapi
persoalan dengan lapang dada dan optimis,
memiliki kemungkinan peluang untuk hidup lebih lama dibanding orang yang
menghentikan kebiasaan merokok atau orang yang rajin olahraga. Menurut para
peneliti, orang tidak takut menghadapi persoalan hidup, rata-rata berusia di
atas tujuh puluh tahun. Berbeda dengan orang yang menghabiskan waktu dengan
menyesali masa lalu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar